Iklan

,

Iklan

.

VIRAL!! Menanti Asa di Tengah Buntunya Birokrasi : Donasi Rp1.000 Siap Pulangkan Jenazah Evi TKW Asal Sukabumi

REDAKSI
Senin, 03 Agustus 2026, 14.53.00 WIB Last Updated 2026-08-03T07:53:53Z

​NASIONAL KINI | SUKABUMI — Isak tangis dan ketidakpastian mendalam masih menyelimuti sebuah rumah sederhana di Jalan RA Kosasih, Gang Mahmud, RT 03/RW 05, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Sudah tiga pekan berlalu sejak kabar duka datang dari Jeddah, Arab Saudi. Namun hingga hari ini, Erwin Susman (43), seorang pengemudi ojek online (ojol), hanya bisa memandangi foto sang istri tercinta, almarhumah Evi Mentari (37), dengan dada sesak dan mata berkaca-kaca, didampingi semua aktifis sosial masyarakat yang tergabung dalam Forum Gerakan Sosial dan Budaya Sukabumi Raya memaparkan perihal tersebut hari Minggu, tanggal (02/08/2026).


​Evi Mentari merupakan korban penderitaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang mengembuskan napas terakhirnya di perantauan. Namun kepulangannya ke tanah air terhalang tembok tebal bernama biaya pemulangan jenazah yang fantastis, berkisar antara Rp60 juta hingga Rp70 juta. Nominal tersebut mustahil terjangkau oleh Erwin yang penghasilannya sebagai pengemudi ojol tidak tentu. Bahkan, dalam tiga minggu terakhir Erwin terpaksa tidak mengaspal demi mengurus kejelasan nasib jenazah istrinya.

​Tangis Anak Bungsu: "Saya Ingin Melihat Wajah Mama..."


​Bagi Erwin dan ketiga buah hatinya — M. Andira Pratama (19), M. Arga Prawira (14), dan Alkahfi Firdaus (8) — penantian ini terasa begitu menyiksa. Bukan sekadar menahan rindu yang tak lagi bertepi, tetapi juga beban psikologis berat yang menimpa buah hati mereka.

​"Saya dan ketiga anak kami sangat ingin melihat untuk terakhir kalinya wajah almarhumah. Hati kami teriris setiap saat jika mengingat almarhumah. Apalagi anak kami yang bungsu (Alkahfi). Ia sering menangis dan terus-menerus minta ingin melihat wajah mamanya," tutur Erwin dengan nada bergetar saat ditemui wartawan.


​Kehidupan keluarga ini kian memprihatinkan. Demi menyambung hidup dan memastikan bangku sekolah tetap terisi, ketiga anak Erwin kini menumpang sementara di rumah saudara (uwak mereka). Beban ekonomi semakin menjepit di tengah ketidakpastian yang tak kunjung menemui titik terang.


​Birokrasi Formal Buntu: Kunjungan Pejabat Hanya Hiasan Tanpa Solusi Nyata!


​Kisah pilu keluarga Erwin sebenarnya bukan tanpa perhatian dari pihak berwenang. Berbagai instansi dan tokoh pemerintahan tercatat telah bergantian mendatangi rumah duka maupun menerima laporan keluarga:


• ​Disnakertrans Kota Sukabumi telah datang berkunjung dan mendata kasus.

• P3MI  dan KP2MI Sukabumi sudah dikasih laporan

• ​BAZNAS Kota Sukabumi telah meninjau lokasi dan memeriksa berkas.

• ​Audiensi bersama Anggota DPRD Kota Sukabumi telah digelar secara formal.

• ​Laporan Resmi ke Sekda Kota Sukabumi telah dilayangkan.


​Namun ironis! Tiga minggu berlalu, nihil solusi nyata! Rangkaian kunjungan, janji manis, dan diskusi meja rapat yang megah tak kunjung membuahkan anggaran ataupun eksekusi percepatan pemulangan jenazah. Prosedur birokrasi yang kaku dan berbelit-belit membuat jenazah almarhumah Evi Mentari tetap membusuk dalam penantian di ribuan kilometer dari tanah kelahirannya.


​Rakyat Bergerak! Peluncuran "Donasi Rp1.000 Program Rakyat Peduli"


​Melihat ketidakberdayaan sistem formal dan lambannya respons pemerintah, rakyat memilih tidak tinggal diam. Forum Gerakan Sosial dan Budaya (FGSB) bersama Komunitas Pengemudi Ojek Online (Ojol) Sukabumi mengambil langkah berani dengan meluncurkan aksi kemanusiaan masif bertajuk: "Donasi Rp1.000 Program Rakyat Peduli".


​Gerakan ini mengusung gagasan gotong royong yang rasional namun berdaya ledak luar biasa: Jika 70.000 warga Sukabumi dan masyarakat Indonesia bersedia menyisihkan hanya Rp1.000, maka dana Rp70 juta yang dibutuhkan untuk memulangkan jenazah Evi Mentari dapat terkumpul dalam waktu singkat!


​Mengapa Program "Donasi Rp1.000 Rakyat Peduli" Harus Didukung?


• ​Aksi Nyata Tanpa Retorika: Ketika birokrasi terjebak rapat dan regulasi, kekuatan koin Rp1.000 dari rakyat langsung mengeksekusi kebutuhan riil (biaya kargo udara, ambulans, dan administrasi Jeddah-Sukabumi).

• ​Menjaga Martabat Kemanusiaan: Memberikan kesempatan terakhir bagi sang suami dan ketiga anak yatim untuk memberikan penghormatan serta doa terbaik di depan jenazah almarhumah.

• ​Simbol Solidaritas Warga: Membuktikan bahwa kepedulian sesama rakyat jauh lebih kuat dan cepat daripada menantikan kepastian dari pejabat.


​Ayo Ambil Bagian! Waktunya Kita Bantu Sesama


​Aksi penggalangan dana jalanan dan online kini resmi digulirkan oleh FGSB dan komunitas Ojol Sukabumi. Setiap rupiah yang disalurkan adalah pelita harapan bagi keluarga yang sedang berduka.


• ​Lokasi Posko Duka: Jl. RA Kosasih, Gang Mahmud, RT 03/RW 05, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi.

• ​Inisiator Movement: Forum Gerakan Sosial dan Budaya (FGSB) & Komunitas Ojol Sukabumi.

• ​Slogan Kampanye: "Donasi Rp1.000 Program Rakyat Peduli — Uang Koin Kita, Bawa Pulang Almarhumah Evi Mentari!"


​Mari sisihkan Rp1.000 kita hari ini. Jangan biarkan anak berusia 8 tahun terus menangis menantikan kepulangan almarhumah ibunya dalam ketidakpastian!


Penulis: DSU

Iklan