Iklan

,

Iklan

.

SUKABUMI SIAGA! Ustadz Gempur dan FAMS Ultimatum KCD : Cabut Papan Plang Meresahkan di Masjid Ibnu Sina Atau Massa yang Bertindak!

REDAKSI
Minggu, 12 April 2026, 20.38.00 WIB Last Updated 2026-04-12T13:38:47Z

 


​NASIONAL KINI | SUKABUMI  – Tensi sosial di wilayah Ciaul, Kota Sukabumi, mencapai titik didih. Sosok sentral pergerakan masyarakat, Pak Ustadz Ace Sopian yang akrab dikenal sebagai Ustadz Gempur, melalui gerbong Forum Aliansi Masyarakat Sukabumi (FAMS), secara resmi melayangkan peringatan keras kepada otoritas pendidikan Jawa Barat, Wawancara Khusus bersama Koordinatoer FAMS, hari Minggu, tanggal (12/04/2026).


​Fokus utama sengketa ini tertuju pada keberadaan papan plang meresahkan yang berdiri di area Masjid Ibnu Sina Sukabumi. Papan tersebut dinilai bukan sekadar penanda aset, melainkan simbol intimidasi yang melukai perasaan umat dan warga sekitar.


​Papan Plang Meresahkan: "Tembok Psikis" Bagi Jamaah


​Bagi FAMS (Forun Aliansi Masyarakat Sukabumi), keberadaan papan plang di lingkungan Masjid Ibnu Sina dianggap . Papan tersebut dinilai menciptakan kesan seolah masjid tersebut tertutup bagi publik, sehingga tamu maupun masyarakat lokal merasa takut dan was-was saat hendak menunaikan ibadah.


​"Papan plang itu sangat meresahkan. Masjid adalah rumah Allah, tempat suci yang harusnya terbuka bagi siapa saja yang ingin bersujud," ungkap salah satu perwakilan FAMS dalam audiensi sebelumnya. Tuntutan FAMS tegas: Papan tersebut harus segera dicabut demi menjaga marwah rumah ibadah.


​Danny Ramdhani (Anggota Dewan Komisi III) Turun Tangan: Dorong Solusi Kekeluargaan


​Merespons situasi yang kian genting, Anggota DPRD Kota Sukabumi, Danny Ramdhani, turut angkat bicara. Sebagai wakil rakyat, Danny memberikan atensi khusus terhadap sengketa lahan dan akses ibadah ini. Dalam pernyataannya, ia mendorong agar semua pihak mengedepankan dialog namun tetap mengakomodir kepentingan masyarakat luas.


​Danny Ramdhani menyarankan agar dilakukan mediasi secara kekeluargaan untuk mencapai perdamaian. Ia menegaskan pentingnya solusi agar tidak ada pihak yang dirugikan, namun tetap memberikan hak penuh bagi masyarakat untuk memakmurkan Masjid Ibnu Sina. Kehadiran suara dari Anggota Dewan Komisi III, ini memberikan dorongan moral besar bagi warga yang berjuang mendapatkan kepastian status wakaf.

​Ultimatum Terakhir Ustadz Gempur: Batas Waktu Senin 13 April!


​Meskipun saran mediasi terus bergulir, Ustadz Gempur menyatakan bahwa kesabaran aliansi masyarakat sudah habis. Langkah diplomasi dianggap "jalan di tempat" selama simbol keresahan, papan plang tersebut, masih berdiri kokoh.


​"Kami tegaskan, jika papan plang meresahkan tersebut sampai hari Senin tanggal 13 April 2026 belum juga diturunkan, maka FAMS akan turun berdemo ke Kantor KCD Wilayah 5. Tidak berhenti di sana, massa akan lanjut bergerak ke lokasi Masjid Ibnu Sina dan kami sendiri yang akan mencabut papan plang tersebut secara paksa!" tegas Ustadz Gempur.


​Di belakang FAMS, telah bersiap koalisi raksasa yang terdiri dari berbagai elemen: SPJ, Garis, FPI, Auris, Gempar, SC 234, Persada 212, Fukoha, dan Fisabilillah.


​Janji Lisan Kepala KCD: Komitmen Wakaf Jami


​Di sisi lain, Kepala KCD Pendidikan Wilayah V Jawa Barat, Bapak Lima Faudiamar, S.STP., telah menjanjikan secara lisan langkah besar. Dalam pertemuan dengan Fuwarci dan DKM pada akhir Maret lalu, ia menjamin dua hal:


• ​Tidak akan ada pembentengan yang menghalangi warga ke masjid.

• ​Pihak KCD berkomitmen memperjuangkan lahan serta Masjid Ibnu Sina agar menjadi lahan wakaf resmi sebagai Masjid Jami.


​Ustad Gempur berharap, "Semua harus tertulis dan tercatat secara hukum agar di kemudian hari tidak menjadi sengketa kembali,"  tegasnya.


​Menanti Senin Penentuan: Diplomasi atau Aksi?


​Kini, seluruh mata tertuju pada Kantor KCD Wilayah V Jabar dan Mesjid Ibnu Sina. Publik menunggu, apakah pihak dinas akan merespons dorongan dari Danny Ramdhani (Anggota Dewan Komisi III) dan tuntutan Ustadz Gempur dengan menurunkan papan plang tersebut secara sukarela sebelum fajar Senin menyingsing?


​Besok pagi akan menjadi pembuktian: Apakah Sukabumi akan menyaksikan sebuah perdamaian yang elegan, ataukah gelombang aksi massa besar-besaran yang akan mengambil alih keadaan?. 


Penulis: Ridho Ramdona

Iklan