Iklan

,

Iklan

.

MRC No One Knows Menjelajah Sukabumi, Padukan Petualangan, Budaya dan Kuliner hingga Berlabuh di Bunga Ayu Seaside Resort

REDAKSI
Selasa, 22 September 2026, 22.44.00 WIB Last Updated 2026-09-22T15:44:52Z

 


NASIONAL KINI | SUKABUMI – Sebanyak 21 anggota Manja Rider Community (MRC) menjadikan Sukabumi sebagai ruang petualangan sekaligus perjumpaan dengan budaya dan kehidupan masyarakat lokal dalam kegiatan bertajuk MRC No One Knows.


Kegiatan yang berlangsung pada 18–20 September 2026 tersebut diikuti peserta dari Bogor, Tangerang, Jakarta, Bekasi dan Depok. Mereka menempuh perjalanan dari Cibinong menuju Bogor Barat, kemudian memasuki wilayah Sukabumi hingga Kasepuhan Gelaralam dan berakhir di kawasan Bunga Ayu Seaside Resort Pelabuhanratu.


Perjalanan tidak sekadar mengandalkan jalur utama. Rombongan harus melewati sejumlah medan dengan karakter berbeda, termasuk penyeberangan menggunakan rakit bambu, jembatan gantung, jalan berbatu hingga jalur pegunungan.


Konsep perjalanan yang sebagian rutenya dirahasiakan membuat peserta harus mengikuti arahan panitia sekaligus menjaga kekompakan sepanjang perjalanan.


Ketua MRC Jihan Ibnu mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari cara komunitas membangun kebersamaan sekaligus mengenal lebih dekat berbagai wilayah yang mereka datangi.


Komunitas tersebut, menurut Jihan, berawal dari perjalanan sederhana bersama keluarga pada 2015. Dari kebiasaan berkendara bersama, kegiatan kemudian berkembang hingga melibatkan anggota komunitas yang memiliki ketertarikan terhadap perjalanan lintas daerah.


Dalam perjalanannya, MRC tidak hanya mengejar tujuan akhir. Mereka juga menjadikan warung makan, tempat istirahat, perkebunan, kawasan pegunungan, pantai hingga permukiman masyarakat sebagai bagian dari pengalaman touring.



Hal itu terlihat ketika rombongan berhenti di sejumlah titik perjalanan untuk makan, beribadah dan menikmati kuliner lokal. Di kawasan Kabandungan, misalnya, peserta menyempatkan diri menikmati buah durian sebelum melanjutkan perjalanan menuju kawasan Pelabuhanratu.


Dari Pelabuhanratu, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gunung Bongkok hingga mencapai Kasepuhan Gelaralam pada Sabtu dini hari.


Kedatangan rombongan di kawasan kasepuhan Gelar Alam menjadi pengalaman tersendiri. Peserta tidak hanya menikmati suasana lingkungan adat, tetapi juga melihat langsung kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi dan tata kehidupan komunitasnya.


Kunjungan tersebut berlangsung menjelang rangkaian Seren Taun. MRC tidak mengikuti prosesi adat karena harus melanjutkan perjalanan sesuai jadwal.


Dalam kunjungan ke kawasan masyarakat adat, rombongan juga diingatkan pentingnya menjaga etika berkunjung, termasuk menghormati ruang masyarakat, meminta izin ketika mendokumentasikan kegiatan dan mengikuti arahan warga setempat.



Setelah menyelesaikan etape pegunungan, rombongan kembali bergerak menuju Pelabuhanratu melalui Cipta Mulya dan Sinaresmi.


Untuk bermalam, MRC memilih Bunga Ayu Seaside Resort di kawasan Palabuhanratu. Tempat tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk beristirahat sekaligus menghabiskan waktu bersama setelah menempuh perjalanan panjang.


Malam kebersamaan diisi dengan makan bersama dan berbagai kegiatan santai. Rombongan menikmati sejumlah menu, di antaranya kambing guling, ikan blue marlin dan cumi berukuran besar, sebelum dilanjutkan dengan berbagi cerita dan hiburan.


Keesokan paginya, Minggu (20/9/2026), peserta sarapan bersama sebelum menikmati suasana pantai melalui akses yang tersedia dari kawasan Bunga Ayu Seaside resort.


Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan komunitas tidak hanya berkaitan dengan aktivitas berkendara. Ada interaksi dengan masyarakat, kuliner, akomodasi dan berbagai aktivitas ekonomi yang ikut bergerak ketika sebuah rombongan melakukan perjalanan.


Bagi daerah tujuan wisata, kehadiran komunitas seperti MRC juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal. Kebutuhan makan, buah-buahan, penginapan, konsumsi kelompok hingga jasa pendukung perjalanan dapat menjadi bagian dari perputaran ekonomi selama wisatawan berada di suatu daerah.



Pengalaman MRC sekaligus menunjukkan bahwa promosi destinasi tidak harus selalu berpusat pada satu objek wisata. Rangkaian perjalanan dari pegunungan, kawasan adat hingga pesisir dapat menjadi satu kesatuan pengalaman yang menarik bagi wisatawan.


Namun, perjalanan ke wilayah dengan medan dan karakter berbeda tetap membutuhkan persiapan. Kondisi cuaca, akses jalan, kemampuan kendaraan dan pengendara, izin setempat serta keselamatan selama penyeberangan perlu menjadi perhatian setiap rombongan.


Usai menikmati kawasan Palabuhanratu, MRC kemudian menempuh perjalanan pulang melalui Cikidang, Parungkuda, Caringin hingga Bogor sebelum peserta kembali ke daerah masing-masing.


Selama tiga hari, perjalanan MRC menyatukan berbagai pengalaman, mulai dari menyeberangi sungai dengan rakit bambu, melintasi jembatan gantung, menikmati kuliner lokal, mengunjungi kawasan adat hingga menikmati suasana pesisir selatan Sukabumi.


Bagi MRC, perjalanan tersebut bukan sekadar soal mencapai tujuan. Kebersamaan dan persaudaraan menjadi bagian penting yang ingin terus dipertahankan dalam setiap perjalanan.


“MRC, Huuuu Haaaa!!! Gaspolll, Tetap Satu Saudara!” menjadi semangat yang menutup rangkaian perjalanan komunitas tersebut.


Penulis: Ismet

Iklan