Iklan

,

Iklan

.

28 Tahun IJTI, Jurnalisme Televisi Didorong Tetap Setia pada Kebenaran di Tengah Disrupsi Teknologi

REDAKSI
Jumat, 21 Agustus 2026, 11.34.00 WIB Last Updated 2026-08-21T04:34:37Z

 


NASIONAL KINI | JAKARTA - Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) memperingati hari ulang tahun ke-28 di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Mengusung tema “Beyond Journalism: Membaca Arah Jurnalisme Televisi di Tengah Ketidakpastian”, peringatan tersebut menjadi momentum untuk merefleksikan tantangan sekaligus masa depan jurnalisme televisi di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perubahan lanskap media, dan dinamika demokrasi.


Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, menegaskan bahwa di tengah perubahan ekosistem media, terdapat prinsip jurnalistik yang tidak boleh berubah, yakni keberpihakan kepada kebenaran dan kepentingan publik.


Menurut Herik, perjalanan dunia jurnalistik menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Namun, jurnalis harus tetap berpegang pada data, kebenaran, serta kepentingan masyarakat dalam menjalankan tugasnya.


“Perjalanan jurnalistik itu sangat berat. Tapi, satu hal yang tidak boleh berubah adalah kita harus setia kepada kebenaran dan mendukung publik sepenuhnya. Kita harus terus melayani kepentingan informasi untuk publik. Kita berdiri di atas data, kebenaran, dan publik,” tegas Herik.


Ia mengatakan, perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Karena itu, jurnalis televisi dituntut mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan teknologi agar tetap dapat menjalankan fungsi jurnalistik secara optimal.


Selain kemampuan beradaptasi, Herik menekankan pentingnya menjaga independensi dan kebebasan pers. Menurutnya, kedua hal tersebut harus terus dirawat oleh insan pers bersama seluruh pemangku kepentingan.


Salah satu upaya yang dapat dilakukan, kata dia, adalah menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, positif, serta tetap berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik.


“Kita harus menjaga dan merawat independensi serta kebebasan pers bersama-sama. Caranya dengan terus mengerjakan karya jurnalistik yang positif dan berkualitas, dengan tetap mengedepankan etik dan kebijaksanaan dalam memberitakan apa pun,” ujarnya.


Kompetensi Wartawan Harus Terus Diperkuat


Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), IJTI juga menilai peningkatan kompetensi wartawan menjadi kebutuhan yang semakin penting.


Herik menyebut kompetensi wartawan memiliki hubungan erat dengan kualitas karya jurnalistik. Wartawan tidak cukup hanya memahami prinsip-prinsip dasar jurnalistik, tetapi juga harus mampu mengikuti perkembangan teknologi serta perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.


“Kompetensi jurnalis harus terus ditingkatkan karena kompetensi itu juga akan berbanding lurus dengan peningkatan karya jurnalistik yang dibuat oleh para jurnalis,” tegasnya.



Tema Beyond Journalism yang diusung dalam HUT ke-28 IJTI menjadi refleksi bahwa masa depan jurnalisme televisi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan berita. Lebih dari itu, profesi jurnalistik dituntut mampu beradaptasi, berinovasi, serta tetap mempertahankan nilai-nilai fundamental jurnalistik.


Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, jurnalisme televisi diharapkan tidak kehilangan jati diri. Teknologi dapat berubah, platform distribusi informasi dapat bergeser, dan pola konsumsi masyarakat dapat berkembang. Namun, prinsip kebenaran, independensi, kepentingan publik, serta etika jurnalistik harus tetap menjadi fondasi.


Pers sebagai Pilar Demokrasi


Herik Kurniawan juga mengingatkan bahwa pers tidak dapat berdiri sendiri dalam menjalankan fungsi demokratisnya. Menurutnya, diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk menciptakan ekosistem pers yang sehat sekaligus mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara bertanggung jawab.


“Jurnalis juga tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan kerja sama dengan semua pihak yang terkait. Kita harus sadar bahwa demokrasi dibangun juga oleh pers, di mana pers merupakan salah satu pilar demokrasi,” katanya.


Peringatan HUT ke-28 IJTI di Hall Dewan Pers menjadi momentum untuk memperkuat komitmen insan jurnalisme televisi dalam menghadapi masa depan.


Beyond Journalism bukan berarti meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik. Sebaliknya, semangat tersebut menjadi dorongan bagi jurnalis untuk bergerak melampaui batas-batas lama dengan tetap menjadikan kebenaran, kepentingan publik, independensi, etika, dan profesionalisme sebagai pijakan utama.


Dengan semangat tersebut, IJTI menegaskan komitmennya untuk terus mendorong jurnalisme televisi yang adaptif terhadap perubahan, tangguh menghadapi disrupsi teknologi, serta tetap dipercaya masyarakat sebagai salah satu pilar penting demokrasi di Indonesia.


Sumber : IJTI

Penulis : Dani SP

Iklan