NASIONAL KINI | SUKABUMI - Pembangunan jaringan irigasi melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) terus berjalan di Kampung Kira Koneng, Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jumat (24/7/2026). Program yang difasilitasi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum ini bertujuan meningkatkan kualitas jaringan irigasi agar kebutuhan air bagi lahan pertanian dapat terpenuhi secara lebih optimal.
Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) wilayah kerja Desa Kertajaya, Suwarno, menjelaskan bahwa Program P3-TGAI merupakan bentuk dukungan pemerintah kepada masyarakat, khususnya para petani, dalam menjaga kelancaran distribusi air irigasi hingga ke lahan pertanian yang berada di bagian hilir.
"Tujuan utama program ini adalah membantu masyarakat, terutama petani, agar pembagian air irigasi ke sawah maupun ladang dapat mengalir lebih baik hingga menjangkau lokasi yang lebih jauh. Melalui P3-TGAI, jaringan irigasi diperbaiki sehingga kebutuhan air pertanian dapat terpenuhi," ujar Suwarno.
Ia menjelaskan, penentuan lokasi penerima Program P3-TGAI dilakukan berdasarkan usulan dari masyarakat, kelompok petani, pemerintah desa, dinas terkait, maupun aspirasi anggota DPR. Selanjutnya, usulan tersebut akan melalui proses verifikasi administrasi dan teknis, meliputi legalitas Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Keputusan Kementerian Hukum dan HAM, identitas pengurus, hingga pengecekan lokasi. Setelah dinyatakan memenuhi persyaratan, penetapan dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.
Menurut Suwarno, hasil pembangunan irigasi nantinya akan menjadi aset desa yang pemeliharaannya menjadi tanggung jawab pemerintah desa bersama masyarakat. Dengan demikian, manfaat infrastruktur dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Untuk memastikan kualitas pembangunan tetap sesuai spesifikasi teknis, BBWS Citarum menerapkan sistem pengawasan secara berjenjang melalui monitoring dan evaluasi (monev) pada progres 50 persen dan 100 persen. Selain itu, keberadaan Tenaga Pendamping Masyarakat berperan mendampingi kelompok P3A, baik dalam penyusunan administrasi, pelaporan kegiatan, maupun pengawasan pekerjaan fisik di lapangan.
"P3A merupakan penerima manfaat sekaligus pelaksana kegiatan secara swakelola. Mereka memiliki peran penting dalam menyukseskan pembangunan hingga tahap pemeliharaan setelah pekerjaan selesai," jelasnya.
Suwarno menambahkan, mekanisme pengawasan juga dilakukan secara transparan melalui pemasangan papan informasi proyek di lokasi kegiatan, pelaporan progres harian oleh TPM kepada Koordinator Manajemen Balai (KMB), serta pelaksanaan monitoring berkala oleh pihak BBWS Citarum.
Terkait dampak program terhadap sektor pertanian, Suwarno optimistis P3-TGAI mampu meningkatkan produktivitas lahan. Dengan sistem irigasi yang lebih baik, petani diharapkan dapat meningkatkan intensitas tanam, misalnya dari satu kali panen menjadi dua kali, atau dari dua kali menjadi tiga kali panen dalam setahun, sesuai kondisi lahan dan ketersediaan air.
Bagi desa-desa yang belum memperoleh Program P3-TGAI, Suwarno menyebut peluang untuk mendapatkan bantuan pada tahun berikutnya masih terbuka lebar. Informasi mengenai tahapan pengusulan dan pelaksanaan program dapat diakses masyarakat melalui kanal resmi BBWS Citarum.
Di akhir keterangannya, Suwarno mengingatkan seluruh kelompok P3A agar menjaga kualitas pembangunan dengan tidak mengurangi spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
"Bangunan yang dikerjakan sesuai spesifikasi akan memiliki usia pakai yang lebih panjang, bahkan bisa bertahan lebih dari 10 tahun. Karena itu, hasil pembangunan harus dipelihara bersama agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat, khususnya para petani," pungkasnya.
Penulis: Dani Sanjaya Permas

