Iklan

,

Iklan

.

Jeritan Pilu Keluarga Udin di Jampang Tengah : Seluruh Rumah Hanya Bilik Bolong Beratap Langit, Terasing dari Bansos dan Makan Bergizi Gratis!

REDAKSI
Senin, 22 Juni 2026, 22.13.00 WIB Last Updated 2026-06-22T15:13:24Z

 


​NASIONAL KINI | SUKABUMI – Di balik rimbunnya perbukitan Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, tersimpan sebuah ironi luar biasa yang mengoyak rasa kemanusiaan. Udin (35), seorang kepala keluarga yang tinggal di Kampung Cigedang, Desa Nangerang, Rt. 22 dan Rw. 04, harus menelan pil pahit kehidupan. Bersama istri dan anak-anaknya, ia terpaksa bertahan hidup di sebuah hunian yang jauh dari kata layak, seolah terlupakan oleh derap pembangunan zaman, penelusuran jejak hari Senin, tanggal (22/06/2026).


​Kondisi tempat tinggal mereka benar-benar menyayat hati. Tidak ada sejengkal pun dinding semen yang kokoh; seluruh bangunan rumah keluarga Udin murni hanya terbuat dari bilik bambu! Tragisnya, bilik-bilik bambu tersebut kini sudah dalam kondisi lapuk, koyak, dan bolong di sana-sini. Saat angin malam berembus kencang, udara dingin menusuk langsung ke tulang. Lebih mencekam lagi saat hujan deras mengguyur wilayah Sukabumi; atap yang bolong membuat air leluasa merangsek masuk, memaksa keluarga kecil ini terjaga di tengah malam demi memeluk anak-anak mereka yang menggigil ketakutan.


​Mirisnya, penderitaan kasat mata ini luput dari perhatian serius pemerintah setempat. Mulai dari pihak Desa Nangerang, Kecamatan Jampang Tengah, hingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi seolah menutup mata atas drama kehidupan yang mengancam keselamatan jiwa keluarga Udin.


​Investigasi Menohok Pemerhati Sosial: "Aneh, Rumah Full Bilik Bolong Tidak Masuk Rutilahu dan Bansos!"


​Kenyataan pahit ini terungkap setelah Pemerhati Sosial, Paul, melakukan investigasi langsung ke lapangan. Mengetahui kondisi riil keluarga Udin yang bertaruh nyawa di dalam rumah bilik lapuk tersebut, Paul mengaku terkejut dan mengutuk keras lambatnya respons birokrasi dalam menangani kemiskinan struktural di wilayah tersebut.


​"Ini sangat tidak masuk akal dan melukai rasa keadilan. Kondisi fisiknya jelas-jelas memprihatinkan, rumahnya semua dari bilik bambu yang bolong-bolong! Namun kenyataan di lapangan menegaskan bahwa rumah keluarga Udin tidak masuk dalam kategori program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Lebih parah lagi, mereka juga sama sekali tidak mendapatkan bantuan sosial (Bansos) dari Dinas Sosial (Dinsos) maupun uluran tangan dari Baznas Kabupaten Sukabumi," tegas Paul dengan nada bicara bergetar menahan geram.


​Menurut Paul, seharusnya instansi teknis seperti Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi tidak hanya duduk di balik meja menerima laporan formalitas.


​"Dinas Perkim seharusnya turun ke bawah, melihat kondisi real di lapangan! Rumah full bilik seperti ini harusnya jadi prioritas utama. Jangan sampai menunggu rumah ini roboh rata dengan tanah dan memakan korban jiwa baru semua pihak sibuk saling melempar tanggung jawab," cetusnya.


​Anak-Anak Udin Merana: Hak Makan Bergizi Gratis (MBG) Pun Menguap


​Penderitaan keluarga Udin ternyata tidak berhenti pada dinding bilik yang bolong dan lapuk. Ironi yang lebih menyedihkan menimpa anak-anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).


​Di tengah gempuran program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menyasar anak-anak sekolah demi memutus rantai stunting dan kemiskinan, anak-anak Udin justru harus gigit jari. Berdasarkan temuan di lapangan, mereka sama sekali tidak mendapatkan jatah program MBG tersebut di sekolahnya.


​Hingga saat ini, belum diketahui pasti apa alasan di balik tidak terdaftarnya anak-anak Udin dalam program krusial tersebut. Apakah karena masalah administrasi kependudukan yang karut-marut, ataukah murni karena kelalaian pihak sekolah dan pendata di tingkat desa? Yang pasti, hak anak-anak dari keluarga prasejahtera yang tinggal di rumah bilik ini telah menguap begitu saja.


​Birokrasi Membisu: Semua Pihak Kompak "Bungkam"


​Skandal kemanusiaan di Jampang Tengah ini memicu pertanyaan besar bagi publik: di mana kehadiran negara untuk rakyat miskin? Ke mana perginya anggaran sosial dan pengentasan kemiskinan yang setiap tahun digelontorkan?


​Hingga berita ini diturunkan, keheningan justru datang dari pihak otoritas terkait. Belum ada satu pun klarifikasi resmi yang diberikan. Pihak Pemerintah Desa Nangerang dan Kecamatan Jampang Tengah yang menjadi garda terdepan wilayah seolah mendadak sulit dihubungi.


​Sikap bungkam yang sama juga ditunjukkan oleh pihak Dinas Perkim, Dinas Sosial, hingga Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sukabumi. Tidak ada penjelasan mengenai alasan mengapa keluarga Udin yang rumahnya murni dari bilik lapuk bisa lolos dari jaring pengaman sosial, rutilahu, hingga program pangan gratis sekolah.


​Masyarakat kini menunggu, akankah ketukan pintu dari para pemangku kebijakan baru akan datang setelah jeritan pilu dari Kampung Cigedang ini viral di media sosial, ataukah keluarga Udin selamanya akan dibiarkan berteman dengan dinginnya angin malam yang menembus dinding bilik bolong mereka?. 


Penulis: DSU

Iklan