NASIONAL KINI | SUKABUMI — Suasana duka menyelimuti lingkungan pondok pesantren di wilayah Sukabumi setelah seorang santri berinisial A (13), siswa kelas VII SMP Al-Kholilyah Mubarokah, meninggal dunia akibat terjatuh dari lantai dua kobong atau asrama santri, Sabtu (19/4/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.
Peristiwa tragis tersebut terjadidi Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Kampung Cikadu RT 05/RW 05, Desa Sukatani. Korban diketahui berada di dalam kamar bersama empat rekannya saat insiden terjadi.
Berdasarkan keterangan pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Ustaz Jamiludin, kejadian bermula ketika para santri diduga panik setelah mendengar ketukan pintu dari luar kamar. Mereka mengira akan ada pemeriksaan mendadak dari pimpinan pesantren.
“Anak-anak panik karena mengira saya yang mengetuk pintu, padahal saat itu saya sedang menerima tamu. Korban diduga spontan melompat melalui jendela dari lantai dua dengan ketinggian sekitar empat meter,” jelasnya.
Dalam situasi tersebut, satu santri lain berinisial L juga ikut melompat dan mengalami luka pada bagian tangan. Sementara dua santri lainnya, M dan R, tetap berada di dalam kamar.
Pihak pesantren baru mengetahui kejadian setelah menerima laporan dari santri lain di sekitar lokasi. Korban sempat dievakuasi dan diperiksa, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Tiga santri yang berada di kamar diketahui merupakan siswa SMP Al-Kholilyah Mubarokah, sementara satu lainnya tercatat sebagai siswa SMK Yapan.
Pimpinan SMP Al-Kholilyah Mubarokah, H. Dedi Wahyudi, membenarkan bahwa korban merupakan salah satu muridnya. Ia mengungkapkan bahwa para siswa tersebut sebelumnya keluar dari lingkungan sekolah untuk potong rambut di sekitar kawasan pesantren.
“Kami sangat terpukul atas kejadian ini. Ini merupakan musibah yang tidak kami duga,” ujarnya dengan nada prihatin.
Jenazah almarhum sempat disalatkan di masjid lingkungan pesantren sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Suasana haru menyelimuti keluarga, teman-teman, serta civitas pesantren yang mengenal korban.
Pihak sekolah menyatakan telah berkoordinasi dengan keluarga korban dan menyampaikan belasungkawa mendalam. Kejadian ini juga akan menjadi bahan evaluasi serius untuk memperkuat pengawasan terhadap para santri.
“Ke depan, kami akan memperketat pengawasan dan pembinaan agar kejadian serupa tidak terulang,” tambah H. Dedi.
Sementara itu, aparat dari Polsek Parakansalak bersama tenaga medis puskesmas serta aparatur Desa Sukatani telah mendatangi lokasi kejadian guna melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengumpulkan keterangan saksi.
Penulis: Dani Sanjaya Permas
