Iklan

,

Iklan

.

Kekecewaan Membuncah, Turnamen APDESI Cikakak Cup 2025 Batal Dibuka Secara Mendadak

REDAKSI
Jumat, 05 September 2025, 17.36.00 WIB Last Updated 2025-09-05T10:58:45Z

 


NASIONAL KINI | SUKABUMI – Harapan besar yang ditanamkan sejak lama oleh para pecinta sepak bola desa akhirnya runtuh seketika. Turnamen Sepak Bola APDESI Cikakak Cup 2025 yang seharusnya menjadi ajang kebanggaan dan silaturahmi antar desa, justru berujung pada kekecewaan akibat batalnya acara pembukaan secara mendadak pada Jumat (5/9/2025).


Aceng, perwakilan Desa Margalaksana tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Dengan nada penuh emosi, ia mengungkapkan bahwa pembatalan ini bukan hanya melukai semangat para peserta, melainkan juga mencederai kepercayaan masyarakat terhadap panitia dan APDESI.


"Saya kecewa dengan tidak jadinya pembukaan sepak bola APDESI Cup 2025 ini. Katanya masalah perizinan, dan pihak kecamatan serta Polsek merasa tidak dihargai. Padahal saya ikut langsung rapat waktu itu, dan jelas disepakati bahwa APDESI yang akan menempuh perizinan. Kenyataannya sekarang malah berantakan seperti ini," tegasnya.


Menurut Aceng, hal yang paling disesalkan adalah pemberitahuan pembatalan yang datang mendadak. Ia mengaku baru menerima informasi resmi setelah salat Jumat, beberapa jam sebelum jadwal kick off pukul 14.00 WIB.



"Ini yang bikin lebih kecewa, pemberitahuan datang mendadak sekali. Harusnya sehari sebelumnya sudah ada kabar. Jadi bukan hanya saya, desa lain pun ikut kecewa. Apalagi antusiasme warga sudah tinggi, sampai ada yang pulang dari kota hanya untuk menyaksikan dan main di turnamen ini,"  tambahnya.


Aceng menegaskan bahwa terakhir kali turnamen serupa digelar adalah pada tahun 2012. Artinya, sudah 13 tahun lamanya masyarakat menantikan momen ini. Namun antusiasme yang membara itu sirna dalam sekejap, hanya karena kelalaian perizinan dan komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.


"Ini acara APDESI, tapi ketua APDESI sendiri tidak hadir di pembukaan. Bagaimana mau jalan turnamen ini kalau dari awal saja sudah berantakan? Kalau hari ini tidak jadi dilaksanakan, saya bersama Desa Margalaksana akan cabut dan tidak ikut serta. Bahkan ada desa lain juga yang menyatakan akan mundur," tegas Aceng


Sementara itu, pihak panitia saat dimintai keterangan oleh nasionalkini.com Wahyudin atau akrab disapa Uwo, mengaku sama-sama kecewa dengan kondisi ini. Menurutnya, sejak awal panitia percaya bahwa urusan perizinan sudah diambil alih langsung oleh Ketua APDESI dan disaksikan oleh enam desa peserta.


"Kami dari panitia sudah siap, tinggal main saja. Pemain juga sudah datang, masyarakat pun sudah menunggu. Tapi tiba-tiba kok dibatalkan dengan alasan perizinan. Kami juga bingung, karena sejak awal Ketua APDESI sendiri yang menyatakan bahwa izin akan diurus olehnya," jelas Uwo.


Ia menambahkan, panitia bekerja tanpa dukungan anggaran. Semua biaya dipikul bersama-sama oleh perwakilan desa peserta yang patungan demi terselenggaranya turnamen ini.



"Kami ini hanya pecinta sepak bola, tidak ada kepentingan apa pun. Panitia dibentuk secara aklamasi dari enam desa, dengan semangat kebersamaan. Tapi kalau akhirnya seperti ini, jujur kami sangat capek. Ke depan pun belum tahu apakah turnamen bisa tetap berjalan atau malah bubar di tengah jalan," ungkapnya dengan nada pasrah.


Kegaduhan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keseriusan APDESI sebagai pihak penyelenggara. Bagaimana mungkin sebuah ajang sebesar APDESI Cup bisa gagal hanya karena kelalaian administrasi perizinan? Terlebih, ketidakhadiran Ketua APDESI dalam momen penting ini semakin menimbulkan kecurigaan dan spekulasi di kalangan peserta.


Masyarakat yang sudah terlanjur bersemangat kini hanya bisa menelan kecewa. Stadion yang semestinya bergemuruh oleh sorak-sorai penonton berubah menjadi tempat penuh tanda tanya. Apakah APDESI Cikakak Cup 2025 benar-benar akan dilanjutkan, atau justru berakhir menjadi catatan kelam dalam sejarah sepak bola antar desa?


Hingga berita ini ditayangkan, belum ada kepastian dari pihak APDESI terkait kelanjutan turnamen ini. Namun yang jelas, kekecewaan mendalam dari peserta, panitia, dan masyarakat masih membekas. Turnamen yang seharusnya menjadi ajang persaudaraan, kini justru menimbulkan kekecewaan dan tanda tanya besar tentang profesionalitas penyelenggaraan.


Penulis: Ismet


Iklan