Iklan

,

Iklan

.

IJTI Tegaskan Keselamatan Jurnalis Jadi Prioritas dalam Pencarian Lima Wartawan di Perairan Anak Krakatau

REDAKSI
Jumat, 11 September 2026, 09.11.00 WIB Last Updated 2026-09-11T02:11:23Z

 


NASIONAL KINI | JAKARTA - Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) terus memantau perkembangan pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hingga kini masih dinyatakan hilang kontak di perairan Gunung Anak Krakatau.


Peristiwa tersebut menjadi duka mendalam bagi insan pers sekaligus mengingatkan kembali tingginya risiko yang dihadapi jurnalis ketika menjalankan tugas di lapangan, terutama saat melakukan peliputan di wilayah bencana dan medan ekstrem.


Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam proses pencarian dan penyelamatan. Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, nelayan setempat, serta berbagai pihak lainnya terus melakukan penyisiran di wilayah perairan Anak Krakatau.


Menurut Herik, upaya pencarian tersebut menjadi harapan besar bagi keluarga dan rekan-rekan para jurnalis serta awak kapal yang hingga kini masih menunggu kabar.


Rombongan sebelumnya bertolak menuju kawasan Gunung Anak Krakatau menggunakan speedboat bermesin ganda atau double engine. Kapal tersebut juga telah dilengkapi perlengkapan keselamatan berupa jaket pelampung bagi seluruh penumpang.


Speedboat dikemudikan Warta, dengan Surakman sebagai awak kapal dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu. Kapal tersebut membawa lima jurnalis, yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhistira Pranoto dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.


Herik menegaskan, keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan jurnalistik, terutama ketika jurnalis berada di lokasi yang memiliki potensi bahaya tinggi.


“Tidak ada berita yang seharga dengan nyawa manusia,” tegas Herik Kurniawan.


Ia mengatakan, dinamika alam, termasuk aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, merupakan faktor yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia. Karena itu, setiap peliputan di wilayah berisiko harus dilakukan dengan perencanaan matang, mitigasi risiko, serta penerapan prosedur keselamatan yang ketat.


Sementara itu, Sekretaris Jenderal IJTI, Usmar Almarwan, menilai insiden hilang kontak tersebut harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) keselamatan bagi jurnalis.


Menurut Usmar, media dan jurnalis perlu memperkuat manajemen risiko serta meningkatkan safety awareness sebelum menugaskan wartawan ke wilayah bencana, perairan berbahaya, maupun medan ekstrem lainnya.


“Keselamatan tidak boleh ditawar. Jurnalis harus dibekali pemahaman dan kesiapan menghadapi risiko sebelum diterjunkan ke lapangan,” ujar Usmar.


IJTI juga menyampaikan dukungan moral dan doa kepada keluarga kelima jurnalis serta tiga awak kapal yang masih dalam proses pencarian. IJTI berharap seluruh keluarga diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian tersebut.


Usmar menegaskan, jurnalisme yang baik harus tetap berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan. Namun, keselamatan jurnalis harus ditempatkan sebagai bagian utama dari proses kerja jurnalistik.


“Jurnalis yang dapat kembali pulang dan berkumpul bersama keluarganya dengan selamat adalah tujuan tertinggi. Sekali lagi, tidak ada satu pun berita yang seharga dengan nyawa manusia,” tegas Usmar.



Penulis : Dani

Iklan