Iklan

,

Iklan

.

Duka Sikka Adalah Duka Kita, Media Diminta Hadir di Tengah Krisis Bencana

REDAKSI
Sabtu, 15 Agustus 2026, 16.22.00 WIB Last Updated 2026-08-15T09:22:49Z

 


NASIONAL KINI | JAKARTA – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) menyampaikan duka mendalam atas bencana gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).


Gempa tersebut menimbulkan dampak signifikan bagi masyarakat. Ribuan warga dilaporkan terdampak, kehilangan tempat tinggal, sementara sejumlah akses wilayah mengalami gangguan. Di tengah kondisi tersebut, rasa takut dan kekhawatiran masih dirasakan masyarakat.


Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, menegaskan bahwa bencana tidak boleh hanya dipandang sebagai angka dalam laporan teknis, tetapi merupakan tragedi kemanusiaan yang membutuhkan kehadiran negara dan seluruh elemen masyarakat.


«“Kepedulian kita tidak boleh berhenti pada ucapan duka di media sosial. Negara dan seluruh elemen bangsa harus hadir secara masif dan cepat. Jangan biarkan saudara-saudara kita di Sikka berjuang sendirian di tengah puing-puing bangunan,” ujar Herik Kurniawan.»


Menyikapi situasi tersebut, Pengurus Pusat IJTI menegaskan sejumlah sikap. IJTI mendorong negara dan seluruh elemen masyarakat untuk bergerak cepat, masif, serta terkoordinasi dalam menangani dampak bencana dan memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.


IJTI juga meminta media televisi tidak sekadar mengejar gambar kerusakan atau mengeksploitasi penderitaan korban. Media diharapkan menjadi suara bagi warga yang belum tersentuh bantuan, sekaligus mendorong transparansi dalam penyaluran bantuan dan memastikan penanganan darurat berjalan efektif tanpa birokrasi yang berbelit.


Para jurnalis televisi dan insan pers yang berada di lapangan juga didorong untuk menyajikan kondisi secara objektif dan terpercaya, termasuk menjangkau wilayah yang terisolasi dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan.


IJTI mengingatkan seluruh media agar menghindari praktik jurnalisme sensasional, seperti clickbait, mengeksploitasi kepanikan korban, maupun menampilkan penderitaan secara berlebihan demi mengejar jumlah penonton dan tayangan.


Sebaliknya, informasi yang disampaikan kepada publik harus akurat, memberikan edukasi, menenangkan masyarakat, serta membantu warga mengetahui langkah-langkah penyelamatan dan penanganan dalam situasi darurat.


Selain itu, IJTI menekankan pentingnya keselamatan bagi para jurnalis yang bertugas di lokasi bencana. Prinsip safety first harus menjadi prioritas ketika melakukan peliputan di wilayah yang masih memiliki potensi bahaya.


Di tengah situasi krisis, IJTI juga mengingatkan masyarakat mengenai ancaman penyebaran hoaks dan disinformasi. Informasi palsu, rumor mengenai tsunami, hingga penggunaan kembali video lama yang seolah-olah menggambarkan kondisi terkini berpotensi menimbulkan kepanikan dan memperburuk situasi.


IJTI mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenaran serta sumbernya. Masyarakat diminta melakukan verifikasi melalui saluran resmi pemerintah, seperti BMKG, BNPB, dan BPBD, serta media massa yang kredibel.


“ Menyebarkan hoaks dan spekulasi liar di tengah situasi krisis adalah bentuk kejahatan kemanusiaan karena merenggut rasa aman warga yang sedang ketakutan. Meja redaksi wajib menerapkan verifikasi berlapis sebelum melempar berita ke publik, dan kami meminta masyarakat hanya memegang informasi dari lembaga resmi dan media yang kredibel,” tegas Herik.


Penulis : Dani Sanjaya P.



Iklan