Iklan

,

Iklan

.

Ancaman Gempa Megathrust M 9,0 di Jakarta : Toto Izul Fatah Ingatkan Potensi Lumpuhnya Ekonomi dan Urgensi Mitigasi

REDAKSI
Selasa, 18 Agustus 2026, 12.52.00 WIB Last Updated 2026-08-18T05:52:17Z

​NASIONAL KINI | JAKARTA  — Potensi bencana gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 9,0 yang bersumber dari zona Megathrust Selat Sunda terus menjadi perhatian utama para ahli kebencanaan dan pemangku kebijakan. Skenario terburuk yang dirancang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa jika guncangan dahsyat ini terjadi, dampaknya tidak hanya merusak fisik bangunan di Jakarta, tetapi juga berpotensi melumpuhkan urat nadi perekonomian Indonesia, liputan khusus, hari Selasa, tanggal (18/08/2026).


​Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menegaskan bahwa pembahasan mengenai ancaman gempa besar di Jakarta bukanlah upaya untuk menyebarkan ketakutan atau narasi fiktif. Menurut Toto Izul Fatah, hal ini merupakan analisis risiko realistis yang harus diantisipasi secara komprehensif oleh pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat luas sebelum musibah benar-benar terjadi.


​Ancaman Nyata Bagi Pusat Saraf Perekonomian Indonesia


​Dalam analisisnya, Toto Izul Fatah menyoroti bahwa Jakarta bukan sekadar kota metropolitan dengan pemukiman padat, melainkan pusat saraf ekonomi dan pemerintahan nasional. Di wilayah ini terkonsentrasi pusat perbankan, pasar modal, kantor pusat perusahaan multinasional, fasilitas logistik, pusat data (data center), hingga rumah sakit rujukan utama.


​Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai aktivitas ekonomi DKI Jakarta mencapai ribuan triliun rupiah setiap tahunnya—berkontribusi signifikan terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.


​Jika gempa M 9,0 terjadi, gangguan yang muncul meliputi:


• ​Kelumpuhan Infrastruktur Digital & Keuangan: Terhentinya daya listrik dan jaringan telekomunikasi dapat mengganggu transaksi perbankan dan operasional pasar modal.


• ​Terputusnya Rantai Pasok Logistik: Kerusakan pada jaringan jalan, pelabuhan di Banten, dan moda transportasi publik akan menghentikan distribusi barang serta pasokan bahan pokok.


• ​Kerusakan Nonstruktural & Fasilitas Publik: Gedung-gedung tinggi berpotensi mengalami pecah kaca, keruntuhan plafon, dan gangguan operasional lift yang mengancam keselamatan pekerja.


​Jika aktivitas ekonomi sebesar itu terhenti selama beberapa minggu atau bulan, nilai kerugian tidak langsung (indirect loss) diprediksi akan jauh melampaui nilai kerugian fisik keruntuhan bangunan.


​Mitigasi Teknis: Membangun Sistem Ketahanan Nasional


​BMKG secara konsisten mengingatkan bahwa status potensi gempa megathrust bukanlah sebuah prediksi tanggal kejadian. Hingga saat ini, belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi secara akurat kapan lempeng bumi akan bergeser. Oleh karena itu, Toto Izul Fatah menekankan agar fokus utama dialihkan dari "kapan gempa terjadi" menjadi "seberapa siap sistem mitigasi yang dimiliki."


​Pemerintah dan sektor swasta didesak untuk memastikan ketersediaan infrastruktur pendukung keselamatan, antara lain:


• ​Disaster Recovery Center (DRC): Sektor perbankan, lembaga keuangan, dan pusat data strategis wajib memiliki pusat pemulihan bencana berbasis cadangan (backup) di luar pulau atau area yang bebas dari dampak langsung bencana.


• ​Kesiapsiagaan Rumah Sakit: Fasilitas kesehatan harus dilengkapi dengan generator darurat dan sistem penanganan pasien dalam kondisi darurat massal.


• ​Audit Kelayakan Bangunan: Memastikan gedung berketinggian sedang hingga tinggi di Jakarta mematuhi standar ketahanan gempa terkini.


​Budaya Kesiapsiagaan dan Refleksi Moral


​Pengalaman dari negara seperti Jepang menunjukkan bahwa dampak fatal akibat bencana dapat ditekan secara signifikan melalui budaya mitigasi yang kuat. Simulasi evakuasi berkala, edukasi publik yang berkelanjutan, serta kesadaran mandiri merupakan kunci utama keselamatan.


​Selain pendekatan teknis, Toto Izul Fatah menilai ancaman bencana ini harus dijadikan momentum muhasabah atau kesadaran moral bersama. Pemanfaatan teknologi canggih dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) tetap harus diimbangi dengan kerendahan hati ekologis—menyadari bahwa manusia hidup berdampingan dengan potensi dinamika alam.


​Kesiapsiagaan yang dibangun sebelum bencana terjadi akan menentukan masa depan bangsa. Jika kesadaran dan mitigasi telah terbentuk secara matang, ancaman gempa besar di sekitar Jakarta tidak akan menjadi awal kebangkrutan ekonomi, melainkan titik balik penguatan kesadaran dan ketahanan nasional. 


Penulis: DSU

Iklan